Blog Widget by LinkWithin

Saturday, April 11, 2009

Derita Sebuah Cinta

Mengapa dia menjadi pujaan?
Mengapa lelaki itu yang menjadi bahan tatapan?
Sehari tidak bersua rindunya tidak keruan,
Lagaknya seperti orang gila bayangan,
Sesaat tidak mendengar suara dia bergetaran,
Sudah hilang selera makan,
Sedetik tidak bertanya khabaran,
Terasa dunia penuh dengan kehancuran,
Seolah-olah rasa besarnya kehilangan...


Begitulah adat org bercinta,
Terasa bagai dunia dia yang punya,
Orang di sekeliling tidak nampak di mata,
Apa yang dilihat cuma "aku & dia",
Bersama-sama mengikat janji setia,
Kononnya sanggup hidup dan mati bersama,
Terpateri sudah janji dara dan teruna,
Cinta mereka seakan-akan dapat merentasi segala,
Biarpun ribut dan badai yang melanda...


Begitu hebat panahan asmara,
Menghanyutkan jiwa-jiwa yang lara,
Terdengar pula bisikan si durjana,
Mengheret manusia bercinta menghampiri zina,
Sekali-sekala iman tergoda,
Mampu lagi rasanya,
Uuntuk menahan nafsu yang menggila,
Namun sampai bila?
Sudah bersumpah si iblis durjana,
Untuk menyesatkan keturunan Adam dan Hawa,
Akhirnya tumpas juga ke lembah hina...


Sudah lupakah aku pada tangan yang membesarkan?
Sudah lupakah aku pada tangan yang menyusukan?
Sudah lupakah aku pada tangan yang menyuapkan?
Sudah lupakah aku pada suara yang memberi dorongan?
Sudah lupakah aku pada suara yang memberi pujukan?
Sudah lupakah aku pada suara yang memberi ketenangan?
Sudah lupakah aku pada mereka yang menjadi kesayangan?


Sanggup aku ketepikan mereka?
Hanya demi cinta aku kepada dia?
Insan yang bersama aku di kala suka,
Bersama aku di kala duka,
Menemani di saat aku kecewa,
Menyulam kasih sayang yang tidak terhingga,
Mendengar dengan penuh setia,
Menyuntik semangat tatkala aku lemah tidak berdaya,
Mengembalikan senyuman di bibirku penuh ceria...


Kejamnya aku pada mereka,
Mengapa bukan pujaan aku buat mereka?
Sedangkan pertama kali aku melihat dunia,
Hanya ada mereka berdua,
Yang tersenyum melihat kelahiran cahaya mata,
Anak yang bakal mendoakan mereka,
Memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat,
Begitu besar harapan mereka terhadap anak tercinta,



Namun apa yang sudah aku lakukan?
Meninggikan suara melawan kata-kata mereka,
Menyebelahi kekasih idaman hati,
Membelakangi mereka demi memenuhi janji,
Janji kepada seorang lelaki,
Yang belum pasti menjadi milik aku,
Yang belum tentu dapat mengasihi aku,
Seperti mereka berdua yang menyayangiku,
Sehingga ke hujung nyawa,
Mencurahkan kasih tanpa mengharapkan balasan,
Sanggup berkorban demi melihat aku tertawa...



Ya Rabbul Izzati,
Taubat Nasuha aku persembahkan,
Agar diri ini lebih matang.,
Menghadapi hari-hari yang mendatang,
Dengan seribu ketabahan dan sejuta kesabaran,
Bimbinglah aku ke pangkal jalan,
Agar aku dapat pulang ke pangkuan,
Pangkuan insan yang bernama Mama & Abah...
Seiring jua aku panjatkan kalimah kesyukuran,
Kerana aku masih belum terlambat,
Untuk mengabdikan kasih ini,
Kepada Yang Maha Berkuasa,
Sesungguhnya ayat-ayat cinta ini,
Hanya untuk Dia~

0 Komen Pembaca:

Post a Comment

Sila Komen dengan ikhlasnya